Metode Menghentikan Kebiasaan Merokok Pada Pasien Dengan Tuberkulosis Paru

A. PENDAHULUAN

Merokok merupakan masalah kesehatan pada masyarakat yang merupakan suatu ancaman besar bagi kesehatan di dunia. Konsumsi tembakau terus-menerus dapat menjadi penyebab utama kematian di dunia yang sebenarnya dapat dicegah. Saat ini, diperkirakan terdapat 1,1 milyar penduduk dunia yang berusia 15 tahun atau lebih merupakan perokok, dan kematian akibat dari penggunaan tembakau terdapat 4,9 juta orang pertahun. Jika pola merokok ini tetap berlanjut, jumlah kematian akan meningkat menjadi sepuluh juta orang per tahun pada tahun 2020, tujuh juta (70%) di antaranya akan terjadi di negara berkembang di berbagai belahan dunia.(1)

Ogawa (2006) mendefinisikan kebiasaan merokok sebagai perilaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus rokok per hari, dengan tambahan adanya distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau secara berulang-ulang. Kebiasaan merokok menganggu kesehatan, kenyataan ini tidak bisa kita pungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk dari merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan bagi perokok sendiri tapi juga bagi orang disekitarnya. Kebiasaan merokok yang melanda dunia telah menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Diperkirakan setiap tahunnya dua setengah juta orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok.(2)

Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Adapun penyebab utama kematian para perokok itu adalah kanker, penyakit jantung, paru-paru, dan stroke. Selain kanker juga menyebabkan gangguan stress di ruang perkantoran. Betapapun diungkapkan berbagai kalangan peneliti tentang berbagai bahaya rokok untuk kesehatan, tetapi para perokok seakan-akan tidak peduli terhadap hasil berbagai penelitian itu. Penelitian terbaru yang melibatkan 34.439 orang dan dipublikasikan oleh British Medical Journal menunjukkan, merokok membuat seseorang tidak panjang umur. Jika dibandingkan dengan orang yang tidak merokok, usia para perokok rata-rata lebih pendek 10 tahun dan menghabiskan uang jutaan dolar.(10)

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Tuberculosis complex dan merupakan masalah kesehatat masyarakat yang penting di Indonesia (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia,2006). Pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan tuberkulosis sebagai “Global Emergency”. Menurut laporan WHO, terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Sebanyak 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif.(1)

Kerugian yang diakibatkan oleh penyakit tuberkulosis paru bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial ekonomi, dengan demikian tuberkulosis paru merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan dalammeningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Karenanya perang terhadap penyakit tuberkulosis paru berarti pula perang terhadap kemiskinan, ketidakproduktifan dan kelemahan akibat tuberkulosis.(5)

Penyebab peningkatan TB Paru di seluruh dunia adalah ketidakpatuhan terhadap program pengobatan, diagnosis, dan pengobatan yang tidak adekuat, migrasi, infeksi human immunodeficiency virus (HIV).(1) Dalam kurun sejarah manusia perang melawan penyakit tuberkulosis paru (Tb-paru) seperti tidak ada putus-putusnya. Ribuan tahun silam seperti ditunjukan oleh tulang-tulang peninggalan masa pra sejarah di Jerman (8000 SM), Tuberkulosis paru diketahui sudah menyerang penduduk pada zamannya. Dari fosil yang digali dari sisa-sisa peradapan Mesir kuno, juga terdapat bukti-bukti bahwa 2,500-1000 tahun SM penyakit ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat. Dari berbagai catatan dunia banyak raja-raja dan tokoh-tokoh terkenal seperti Raja Henry VII, Goethe, Rousseau, Chopin diketahui meninggal karena penyakit Tuberkulosis Paru. Di Indonesia situs berupa relief Candi Borobudur sudah mengenal adanya penyakit ini, mungkin saja ada beberapa raja Indonesia yang menderita Tuberkulosis Paru, namun belum terdapat catatan resmi tentang hal ini.(5)

Di India TB adalah salah satu penyebab utama kematian para perokok. Sekitar 20% kematian akibat tuberkulosis di India berhubungan dengan kebiasaan merokok mereka. Merokok diperkirakan mampu membunuh hampir satu juta warganya di usia produktif pada tahun 2010. Penelitian itu juga menunjukkan, kebiasaan tersebut menjadi penyebab utama kematian pada penderita TBC, penyakit saluran pernapasan, dan jantung. Menurut penelitian tersebut juga mengungkapkan tuberkulosis dan merokok merupakan dua masalah kesehatan masyarakan yang signifikan, terutama di negara berkembang.(1)

Di Indonesia tahun 2004 tercatat ± 627.000 insiden tuberkulosis paru dengan ± 282.000 diantaranya positif pemeriksaan dahak. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 menunjukkan bahwa estimasi prevalensi tuberkulosis paru berdasarkan pemeriksaan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) positif sebesar 104 per 100.000 penduduk dengan batas bawah 66 dan batas atas 142 pada selang kepercayaan 95%. Badan litbangkes (2003) estimasi incidence rate tuberkulosis paru di Indonesia berdasarkan pemeriksaan (BTA) positif sebesar 128 per 100.000 penduduk. WHO (2005) estimasi incidence rate tuberkulosis paru di Indonesia untuk semua kasus sebesar 675 per 100.000 penduduk.(5)

Secara umum, perokok ternyata lebih sering mendapat TB dan kebiasaan merokok memegang peranan penting sabagai faktor penyebab kematian pada TB. Kebiasaan merokok membuat seseorang jadi lebih mudah terinfeksi tuberkulosis, dan angka kematian akibat TB akan lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas maka pertanyaan penelitian yang menjadi dasar literature review dalam artikel ini adalah metode apa yang digunakan untuk menghentikan kebiasaan merokok pada pasien dengan Tuberkulosis Paru?

C. TUJUAN

Artikel ini bertujuan untuk melakukan review terhadap berbagai literature yang berhubungan dengan metode menghentikan kebiasaan merokok pada pasien dengan Tuberkulosis Paru.

D. METODOLOGI

Metode yang digunakan adalah melakukan review terhadap berbagai literatur tentang metode menghentikan kebiasaan merokok pada pasien dengan Tuberkulosis Paru. Literatur yang digunakan berjumlah 10 buah yang dipublikasikan tahun 2002-2011.

E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Merokok
a. Definisi Merokok


Merokok adalah suatu perbuatan dimana seseorang menghisap rokok (tembakau). Bahaya merokok bagi kesehatan telah dibicarakan dan diakui secara luas. Penelitian yang dilakukan para ahli memberikan bukti nyata adanya bahaya merokok bagi kesehatan si perokok dan bahkan pada orang di sekitarnya.1

b. Kandungan yang terdapat dalam rokok

Asap rokok mengandung 4000 zat kimia berbahaya bagi kesehatan dan terdapat lebih dari 200 macam racun. Asap rokok itu mengandung antara lain karbon monoksida (CO) , nikotin, dan polycyclic aromatic hidrocarbon yang mengandung zat pemicu terjadinya kanker (tar, benzopyrenes,, nitroso-nor-nicotin, kadmium, hydrogen cyanide, vinyl chlorid, toluane, arsanic, phenol butana, amonia, methanol, acaton) selain itu asap rokok yang dihirup juga mengandung komponen gas dan partikel yang berbahaya.(2)
Nikotin dalam rokok dapat mempercepat proses penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Penyumbatan dan penyempitan ini bisa terjadi pada pembuluh darah koroner, yang bertugas membawa oksigen ke jantung. Nikotin, merupakan alkaloid yang bersifat stimulant dan beracun pada dosis tinggi. Zat yang terdapat dalam tembakau ini sangat adiktif, dan mempengaruhi otak dan system saraf. Efek jangka panjang penggunaan nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mendapatkan tingkat kepuasan.(2)

Tar, mengandung zat kimia sebagai penyebab terjadinya kanker dan menganggu mekanisme alami pembersih paru-paru, sehingga banyak polusi udara tertinggal menempel di paru-paru dan saluran bronchial. Tar dapat membuat system pernapasan terganggu salah satu gejalanya adalah pembengkakan selaput mucus.(2)

Gas karbonmonoksida (CO) mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb) yang terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) lebih kuat dibanding oksigen, sehingga setiap ada asap rokok disamping kadar oksigen udara yang sudah berkurang, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen, oleh karena yang diangkut adalah CO dan bukan O2 (Oksigen). Sel tubuh yang menderita kekurangan oksigen akan berusaha meningkatkan asupan oksigen melalui kompensasi pembuluh darah dimana pembuluh darah akan menciut atau spasme. Bila proses spasme berlangsung lama dan terus menerus maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses arterosklerosis (penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi dimana-mana. Di otak, di jantung, di paru, di ginjal, di kaki, di saluran peranakan, di ari-ari pada wanita hamil.kekurangan oksigen karena CO (karbon monoksida). Kadar CO yang terhisap juga akan mengurangi nilai VO2max.(2)

c. Motifasi seseorang untuk merokok

Universitas Southampton di Inggris telah mengadakan sebuah kajian tentang sebab-sebab orang merokok, hasilnya menunjukkan bahwa seseorang menjadi perokok secara umum memiliki motivas-motivasi seperti berikut diantaranya:(6)

1) Mengurangi ketegangan syaraf dan menghilangkan rasa lelah.
2) Mengendorkan persendian dan mendapatkan kelegaan setelah merokok.
3) Merokok untuk menyendiri, sebagian orang akan merasakan kenikmatan merokok seorang diri yang jauh dari pandangan orang lain.
4) Merokok setelah atau sambil beraktifitas, seperti merokok setelah makan, atau setelah minum kopi atau teh.
5) Merokok sebagai pengganti makanan, karena merokok dapat mengurangi nafsu makan sehingga konsumsi makanannya berkurang.
6) Merokok sebagai sikap sosial, yaitu jika berkumpul bersama temamteman, terlebih lagi jika dalam sebuah acara tertentu.
7) Merokok untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Ada orang-orang yang apabila ditimpa kegundahan, kesempitan atau rasa cemas dalam satu masalah segera menyalakan rokok untuk menghindarinya.

Dan berdasarkan penelitian di Universitas King Sa’ud (Saudi Arabia), menyebutkan beberapa sebab yang mendorong seseorang untuk merokok, diantaranya:(6)

1) Anak yang mencontoh perbuatan bapaknya yang merokok dan tidak adanya larangan dari orang tuanya.
2) Bergaul bersama para perokok, khususnya pada usia menjelang dewasa.
3) Ingin menampilkan kejantanannya pada usia muda.
4) Rasa gelisah dan gundah yang diiringi dengan kekosongan rohani ditambah waktu luang yang menjadikan seseorang ingin lari darinya dengan berbagai macam cara.
5) Tidak adanya pemahaman yang cukup tentang bahaya rokok.
6) Lemahnya dorongan keimanan dalam hati sehingga membuat seseorang tidak memperdulikan apa yang akan menimpa dirinya.
d. Penyakit yang disebabkan rokok pada paru-paru:
1) Tuberkulosis Paru
2) Kanker Paru-Paru.
3) Kanker Tenggorokan.
4) Radang Rongga Tenggorokan yang akut.
5) Radang Rongga Hidung dan alergi pada hidung.
6) Asma dan berbagai macam bentuk alergi.

Selain yang diatas tadi merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit lainnya yang mengakibatkan kematian. Dapat kita klasifikasikan berdasarkan organ tubuh yang terkena penyakit:

1) Penyakit yang menyerang Jantung,
2) Penyakit-penyakit yang menyerang organ pencernaan,
3) Penyakit yang menyerang organ mata,
4) Gangguan seksual,
5) Penyakit yang menyerang saluran air kencing,
6) Penyakit-penyakit kejiwaan.

2. Tuberkulosis Paru
a. Definisi Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), yang menyerang terutama paru dan disebutjuga tuberkulosis paru. Bila menyerang organ selain paru (kelenjar limfe, kulit, otak,tulang, usus, ginjal) disebut tuberkulosis ekstra paru.(5)

Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun.(5)

b. Cara penularan


Cara penularan tuberkulosis paru melalui percikan dahak (droplet) sumber penularan adalah penderita tuberkulosis paru BTA(+), pada waktu penderita tuberkulosis paru batuk atau bersin. Droplet yang mengandung kuman TB dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam, sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman, percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya.(5)

Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahaknya maka makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahaknya negatif maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Risiko penularan setiap tahun Annual Risk Of Tuberculosis Infection (ARTI) di Indonesia cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3%. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun di antara 1000 penduduk, 10 orang nakan terinfeksi, kemudian sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita tuberkulosis paru, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis. Dari keterangan tersebut dapat diperkirakan bahwa pada daerah dengan ARTI 1%, maka di antara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 penderita setiap tahun, dimana 50 penderita adalah BTA positif. (5)

Faktor risiko yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis paru adalah karena daya tahan tubuh yang lemah, diantaranya karena gizi buruk dan HIV/AIDS. HIVmerupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi kuman TB menjadi sakit tuberkulosis paru. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (opportunistic), seperti tuberkulosis paru maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah penderita tuberkulosis paru akan meningkat pula, dengan demikian penularan penyakit tuberkulosis paru di masyarakat akan meningkat pula. (5)

c. Tanda dan gejala(5)

Tanda dan gejala tuberkulosis paru biasanya adalah sebagai berikut ;
1) Gejala utama: batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih.
2) Gejala tambahan yang sering dijumpai:
a) Dahak bercampur darah
b) Batuk darah
c) Sesak nafas dan rasa nyeri dada
d) Badan lemah dan nafsu makan menurun
e) Malaise atau rasa kurang enak badan
f) Berat badan menurun
g) Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
h) Demam meriang lebih dari satu bulan

Gejala-gejala tersebut dijumpai pula pada penyakit paru selain tuberkulosis. Oleh karena itu setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dengan gejala tersebut, harus dianggap sebagai seorang suspek tuberkulosis paru atau tersangka penderita tuberkulosis paru, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

3) Gejala klinik
a) Gejala Sistemik
Secara sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam, demam tersebut berlangsung pada waktu sore dan malam hari, disertai dengan keluar keringat dingin meskipun tanpa kegiatan, kemudian kadang hilang. Gejala ini akan timbul lagi beberapa bulan seperti demam influenza biasa dan kemudian juga seolah-olah sembuh (tidak demam lagi). Gejala lain adalah malaise (seperti perasaan lesu) yang bersifat berkepanjangan kronik, disertai rasa tidak enak badan, lemah dan lesu, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan semakin kurus, pusing, serta mudah lelah. Gejala sistemik ini terdapat baik pada tuberkulosis paru maupun tuberkulosis yang menyerang organ lain.
b) Gejala respiratorik
Adapun gejala respiratorik atau gejala saluran pernapasan adalah batuk. Batuk bisa berlangsung terus menerus selama 3 minggu atau lebih, hal ini terjadi apabila sudah melibatkan bronchus. Gejala respiratorik lainny adalah batuk produktif sebagai upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau sputum, dahak ini kadang bersifat mukoid atau purulent. Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk darah, hal ini disebabkan karena pembuluh darah pecah akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. Batuk darah inilah yang sering membawa penderita ke dokter. Apabila kerusakan sudah meluas, timbul sesak napas dan apabila pleura sudah terkena maka disertai pula rasa nyeri dada.

3. Hubungan Merokok dan Tuberkulosis Paru1

Kebiasaan merokok akan merusak mekanisme pertahanan paru yang disebut muccociliary clearance. Bulu-bulu getar dan bahan lain di paru tidak mudan membuang infeksi yang sudah masuk karena bulu getar dan alat lain di paru rusak akibat asa rokok. Selain itu, asap rokok meningkatkan tahanan jalan napas (airway sesistance) dan menyebabkan “mudah bocornya” pembuluh darah di paru-paru, juga akan merusak makrofag yang merupakan sel yang dapat memfagositosis bakteri patogen.

Asap rokok juga diketahui dapat menurunkan respons terhadap antigen sehingga kalau ada benda asing masuk ke paru tidak lekas dikenali dan dilawan. Secara biokimia asap rokok juga meningkatkan sintesa elastase dan menurunkan produksi antiprotease sehingga merugikan tubuh kita. Pemeriksaan canggih seperti gas chromatography dan mikroskop elektron lebih menjelaskan hal ini dengan menunjukkan adanya berbagai kerusakan tubuh di tingkat biomolekuler akibat rokok.

4. Cara Menghindari Rokok6

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari kebiasaan buruk yang telah menggerogoti tubuh masyarakat dan menggiring mereka kepada kehancuran:

a. Berdoa

* Allah SWT berfirman:
” Berdoalah kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan “ (Ghafir : 60)
* Dari Abi Hurairah radiallahuanhu berkata: Rasulullah e bersabda :
“ Tidak ada yang lebih mulia disisi Allah selain doa” (Riwayat Ahmad, Turmuzi dan Hakim)
* Rasulullah e bersabda:
“ Obatilah orang-orang sakit diantara kalian dengan shodaqoh dan lindungilah harta kalian dengan zakat dan bersiaplah menghadapi cobaan dengan doa” (Riwayat Baihaqi dan Tabrani)
* Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda :
“ Kewaspadaan tidak berpengaruh bagi takdir, sedangkan doa bermanfaat terhadap apa yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan, sesungguhnya cobaan jika disambut dengan doa akan bertarung sampai hari kiamat” (Riwayat Hakim)

b. Tawakkal Kepada Allah SWT.

Tawakkal memiliki kedudukan yang tinggi dan pengaruh yang besar, Allah SWT memerintahkan dan menganjurkan hambanya untuk bertawakkal pada ayat-ayat-Nya yang banyak. Dalam surat Ibrahim Dia berfirman:
“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mu’min bertawakkal “
(Ali Imran : 122).
Dan Allah SWT telah menjamin bagi orang yang bertawakkal untuk mengurusi segala urusannya dan mencukupi segala keinginannya, sebagaimana firman-Nya:
“Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dia akan mencukupi segala keinginannya” (at Thalaq: 3)
Ibnu Rajab berkata dalam kita Jami’ al-Ulum, hal 409: “Hakikat tawakkal adalah bersandarnya hati secara benar kepada Allah SWT dalam rangka mendatangkan manfaat dan menjauhkan mudharat (bahaya) dalam urusan dunia ataupun akhirat, dia mewakilkan segala permasalahannya kepada Allah, Imannya dia wujudkan dengan (keyakinan) bahwa tidak ada yang memberi dan mencegah, mendatangkan mudharat atau manfaat selain Dia (Allah)”
Banyak orang yang berkeyakinan bahwa tawakkal kepada Allah SWT berarti tidak perlu melakukan sesuatu yang menjadi sebab. Ini merupakan keyakinan yang keliru, Rasulullah ketika ditanya seseorang: “Yaa Rasulullah apakah saya lepaskan (binatang) tunggangan saya dan kemudian saya bertawakkal ?“ beliau menjawab:” Ikatlah dahulu baru kemudian bertawakkal” (diriwayatkan oleh Thabrani , al Hakim dan Ibnu Hibban).

c. Menghentikannya Secara Spontan.

Upaya ini membutuhkan tekad yang kuat setelah tawakkal kepada Allah SWT, sebetulnya perkaranya mudah sekali tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, hal tersebut dapat kita perhatikan pada bulan suci Ramadhan di siang hari (dimana banyak para perokok yang dengan mudah menghentikan kegiatan merokoknya). Disamping itu ada beberapa hal yang dapat membantu dalam cara ini, diantaranya:
• tidak bergaul dengan orang-orang yang merokok.
• tidak meminum sesuatu yang biasa diminum perokok saat merokok.
• melakukan olah raga secukupnya.
• banyak memakan sayur-sayuran dan buah-buahan.

d. Pengobatan Kejiwaan (Psychotheraphy)


Psychotheraphy merupakan salah satu cara pengobatan yang dapat membantu para perokok menghentikan kebiasaan merokoknya, yaitu dengan cara mengetahui faktor apa saja yang merangsang seseorang untuk merokok dan kemudian mengambil tindakannya atasnya, atau dengan cara mengurangi tindakan merokok dan meningkatkan kemampuan melakukan sesuatu tanpa harus menyalakan sebatang rokok, sebagaimana mungkin juga menimbulkan keengganan merokok dengan memberikan setruman listrik bertegangan rendah ketika dia hendak menyalakan sebatang rokok, demikian juga para dokter ahli jiwa melakukan beberapa terapi kejiwaan kepada para perokok yang dapat mengontrol prilakunya dan kemudian dapat menyembuhkannya.

e. Mencari Altertanif Lain.

Karena nikotin merupakan unsur yang menyebabkan seseorang perokok menjadi ketagihan, maka sesuatu yang memungkinkan bagi perokok untuk menghindari rokok dengan mengunyah sejenis permen yang mengandung nikotin atau sejenis benda yang mirip nikotin reaksinya akan tetapi tidak terus menerus, atau menggunakan larutan pencuci mulut atau sejenis tablet yang mengandung unsur yang dapat membantu para perokok menghentikan kebiasaannya. Atau dapat juga menggunakan siwak dengan selalu meletakkannya di mulut sebagai pengganti bagi perokok secara kejiwaan, rokok yang biasa dia hisapnya. Akan tetapi semua cara tersebut harus dilakukan dibawah pengawasan dokter dan pada umumnya hal ini akan memberikan hasil positif jika diiringi dengan terapi kejiwaan.

f. Menghentikannya Secara Bertahap
Seorang perokok dapat menghentikan kegiatan merokoknya dengan bertahap. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah konsumsi rokok sebatang atau dua batang setiap harinya. Juga dengan cara menggunakan filter yang dapat mengurangi kadar nikotin. Akan tetapi menghentikannya secara total lebih besar kemungkinan berhasilnya daripada cara bertahap.

g. Klinik Pemberantasan Rokok.

Didirikannya sejumlah klinik pemberantasan rokok adalah untuk membantu para perokok menghentikan kebiasaan merokok dengan menggunakan cara akupunktur China misalnya dilengkapi dengan berbagai metode yang membantu upaya tersebut seperti sentuhan setrum listrik yang dapat melahirkan perasaan kejiwaan berupa reaksi negatif bagi perokok terhadap bau dan rasa rokok.

h. Keluar dari Lingkungan Perokok.

Sekali waktu seorang perokok dapat meninggalkan dunianya yang sunyi dari rokok, hal tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan perjalanan bersama teman-teman yang baik dengan maksud menghindari rokok bersama-sama sambil berusaha mengisi waktu yang luang sebaikbaiknya sehingga tidak timbul kesempatan untuk berkeinginan merokok, dan dengan berusaha berulang kali untuk dapat meninggalkannya dalam beberapa hari terus menerus sambil menguatkan tekad untuk menghentikannya sama sekali dan menumbuhkan kesadaran akan kemampuannya untuk itu sehingga menumbuhkan usaha yang berlipat ganda.

i. Memperbanyak Bergaul dengan Orang-orang yang tidak merokok, menghadiri pertemuan-pertemuan dan acara-acara mereka sehingga timbul rasa malu dalam dirinya (untuk merokok) dihadapan mereka.

j. Tidak Putus Asa jika Mengalami Kegagalan.

Diketahui bahwa lebih dari 60% orang yang berusaha untuk menghentikan kegiatan merokoknya kembali melakukannya, akan tetapi upaya yang terus menerus serta mempelajari berbagai kelemahan pada akhirnya akan membuahkan keberhasilan. Orang yang memiliki tekad yang kuat adalah orang yang bersedia belajar dari kesalahan-kesalahannya dan tidak mengenal kata menyerah selamanya.

G. KESIMPULAN


Keinginan untuk hidup sehat, panjang umur, terbebas dari gangguan kesehatan maupun penyakit mendorong perokok untuk terlepas dari penderitaannya. Alasan berhenti merokok bisa dipengaruhi faktor kesehatan, keluarga, dan organisasi keagamaan. Faktor kesehatan yaitu munculnya gangguan-gangguan seperti hipertensi, nyeri dada, demam tinggi maupun batuk. Sementara itu penolakan anggota keluarga terhadap perokok mengakibatkan ada usaha keras untuk berhenti merokok. Faktor keluarga sebagai alasan berhenti merokok termasuk keprihatinan melihat anak dan istri yang mengikuti jejaknya sebagai perokok serta adanya balita di rumah yang akan terkena pengaruh negatif asap rokok. Sementara itu, faktor organisasi keagamaan menyangkut organisasi keagaamaan yang dianutnya menjadi faktor penting dalam hidupnya yang telah memberi pencerahan padanya agar menjauhi rokok, karena pengaruh negatif dari rokok lebih besar daripada positifnya.

Cara yang ditempuh untuk berhenti merokok antara lain dengan metode berdoa, tawakal kepada Allah SWT, menghentikan secara spontan, pengobatan kejiwaan (Psychotheraphy), mencari alternatif lain, mengentikan secara bertahap, mendatangi klinik pemberantasan rokok, Memperbanyak Bergaul dengan Orang-orang yang tidak merokok, menghadiri pertemuan-pertemuan dan acara-acara mereka sehingga timbul rasa malu dalam dirinya (untuk merokok) dihadapan mereka, keluar dari lingkungan perokok, tidak putus asa jika mengalami kegagalan.

Untuk mewujudkan program berhenti merokok, tentu saja ada faktor yang memudahkannya. Mereka berpikir bahwa mereka mampu untuk berhenti, maka berhentilah mereka dari merokok. Kekuatan pikiranlah yang sangat menentukan perilaku mereka. Adanya niat, tekad, kemauan, dan perubahan perilaku yang mendasari mereka untuk berhenti merokok. Tanpa unsur-unsur di atas, maka kebiasaan merokok akan terus dilakukan. Karena itu, dianjurkan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam mengambil keputusan seperti halnya ketika memutuskan baik ketika akan memulai maupun mengakhiri hidup dengan rokok.

Berhenti merokok menyebabkan mereka bertambah tahu apa itu bahaya rokok. Adanya pengetahuan bahaya merokok yang disebarluaskan baik oleh pemerintah maupun LSM antirokok diharapkan para perokok juga ada keinginan (niat) untuk berhenti merokok, sehingga kerugian yang dialami oleh perokok pasif akan terlindungi.
Berhenti merokok hanya bisa dilakukan dengan niat. Tidak ada obat yang bisa menghilangkan kebiasaan itu. Kalaupun ada, sifatnya hanya sementara dan harganya mahal sekali. Dengan bantuan orang-orang di sekitarnya, perokok bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Banyak orang mengatakan bahwa kenikmatan merokok sangat menyenangkan. Banyak pula orang mengatakan sulit sekali untuk meninggalkan kebiasaan atau lebih tepatnya kecanduan rokok. Mengapa dikatakan kecanduan, karena kebiasaan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan harus dipenuhi jika diinginkan serta rasa nikmat yang diburu. Padahal semua masyarakat dan khususnya perokok itu sendiri tahu benar bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru dan jantung, namun mereka masih tetap merokok. Inilah yang mempertegas bahwa merokok masuk alam kategori kecanduan zat tertentu (nikotin) untuk menimbulkan rasa nikmat yang dalam bagi pecandunya. Hanya dengan tekad yang serius untuk menolak semua ajakan dan keinginan untuk merokok adalah sangat penting, karena dari titik inilah selalu dapat mawas diri (kontrol diri) dalam setiap tindakan khususnya kecanduan rokok. Karena jika berkompromi dengan rokok, maka sebenarnya manusia yang tidak dapat memegang teguh prinsip hidup pribadinya. Jadi, tetaplah yakin bahwa kecanduan rokok mampu dihentikan dan tetap ingatlah selalu pada prinsip hidup yang benar.Salah satunya adalah tidak merokok.

Harapan terakhir dari pembuatan literatur refiuw ini adalah bagaimana Indonesia menjadi negara yang benar-benar terbebas dari racun asap rokok. Tentunya dengan memperkuat sistem pengaturan khususnya perundang-undangan yang ketat dalam usaha mencegah bahaya merokok. Semoga literatur review ini benar-benar membuka kesadaran semua bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur tanpa harus dikotori oleh asap rokok. Hal itu akan efektif apabila sungguh-sungguh dikerjakan.

H. REFERENSI
1. Muhammad, Zainul. Hubungan Kebiasaan merokok dengan konfersi Sputum Penderita TB Paru di Klinik Jemadi Medan. 2009. Tersedia di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14270/1/10E00025.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
2. Dimas, sondang Irewan. Pengaruh Kebiasaan Merokok Terhadap Daya Tahan Jantung Paru. 2009. Tersedia di
http://etd.eprints.ums.ac.id/6497/1/J110050028.PDF
Diakses tanggal 17 Maret 2012
3. Tjandra Yoga, dkk. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. 2006. Penerbit: Perkumulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Tersedia di
http://www.tbindonesia.or.id/pdf/Jurnal_TB_Vol_3_No_2_PPTI.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
4. Mohammad, Efendi. Penggunaan Cognitive Behavior Therapy Untuk Mengendalikan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa Melalui Peningkatan Perceived Self Efficacy Berhenti Merokok. 2005. Tersedia di
http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_books/single/id_no_smoking_please.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
5. Bambang, Ruswanto. Analisis Spasial Sebaran Kasusu Tubekulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah di Kabupaten Cirebon. 2010. Tersedia di
http://indice.blog.uns.ac.id/files/2010/05/rokok-herbal.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
6. Thalal Bin Sa’ad Al-Utaibi. Penerjemah Abdullah Haidir. Maaf Dilarang Merokok. 2007 Tersedia di http://eprints.undip.ac.id/16374/1/1056.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
7. Bertin Tanggap Tirtana. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Resistensi Obat Tuberkulosis di Wilayah Jawa Tengah. 2011. Tersedia di
http://eprints.undip.ac.id/32879/1/Bertin.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
8. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2002. Tersedia di
http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/nasional/penanggulangan/tb.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
9. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. 2006. Tersedia di
http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BUKU_PEDOMAN_NASIONAL.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012
10. Nurhidayat Fawzani, Atik Tritnawati. Terapi Berhenti Merokok (Studi Kasus 3 Perokok Berat). 2005. Tersedia di http://repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/102.pdf
Diakses tanggal 17 Maret 2012


Oleh : Surya Adi Praja, Eli Yuniati & Hesti Fitriani (tugas kep sistem pernafasan)