Anakku ToF...



Aysha, seorang bayi mungil yang kehadirannya adalah anugerah untukku, seorang bayi perempuan yang kelak akan menemani kakak-kakaknya. Tangis kecilnya selalu membuatku luruh untuk menyayanginya sepenuh hatiku, terlebih saat matanya terpejam, tertidur dalam buaian mimpi, semakin membuatku mengasihinya.
Kuharap ia menjadi seorang anak yang sholehah, pintar seperti kakak-kakaknya, membawa keceriaan dengan tawa dan candanya, menyejukkan hati ketika aku gundah. Harapan ini barangkali bukanlah harapan yang berlebihan dari seorang ayah atas kehadiran anaknya.
Masih kuingat ketika ia dilahirkan ibunya, tubuh mungil yang masih dipenuhi lemak putih diletakkan di atas tubuh ibunya, diselimuti kain tipis untuk menghangatkan tubuhnya, kepalanya bergerak-gerak dengan mulut terbuka mencari puting susu ibunya, rambutnya yang tebal masih basah, bau tubuh mungilnya begitu nikmat dihidungku.
Wajahnya tampak cantik dengan lesung pipit di pipi kirinya, matanya sipit dihiasi sepasang alis yang memanjang lurus, bibir mungilnya membuat ia semakin manis. Ah, memang benar...seorang bayi selalu membawa rasa kasih dan sayang yang besar dan menciptakan kebahagiaan ketika menatapnya, mengaguminya.
Namun rasa senang dan bahagia atas kehadiran Aysha akhirnya diwarnai dengan kekhawatiran ketika kuperhatikan nafasnya kadang-kadang terlalu cepat melebihi batas normal, terkadang nafasnya mencapai 70 kali per menit, warna kulitnya sedikit kuning dan babnya cair. Kekhawatiran itu semakin besar setelah mendengar dari ibunya bahwa Aysha terlihat sianosis di hidung dan bibirnya ketika aku di Jogja. Akhirnya Aysha dirawat, beberapa pemeriksaan pun dilakukan.
Sampai suatu saat dokter yang merawatnya menyarankan untuk konsultasi dengan kardiolog karena melihat gambaran “telapak sepatu” dari hasil babygramnya. Dokter mengarahkan diagnosanya pada kemungkinan bahwa anakku mengalami ToF (Tetralogy of Fallot), sebuah kelainan jantung congenital yang terdiri dari empat kelaianan yaitu kelainan pada aorta (overriding aorta), stenosis pulmonal, ventricular septal defect (VSD) dan hipertrofi ventrikel kanan.
Diagnosa itu membuat sungguh membuat sedih, aku tahu ToF adalah kelainan jantung yang cukup berat, termasuk kelainan jantung sianotik dengan vaskularisasi ke paru berkurang sehingga anak akan mengalami kekurangan oksigen pada saat-saat tertentu. Kelainan ini juga mungkin memerlukan koreksi melalui tindakan operasi dengan biaya yang cukup mahal. Dokter kardiolog pun mengarahkan pada kemungkinan bahwa Aysha memang mengalami ToF dan perlu observasi di rumah sakit beberapa lama untuk melihat perkembangannya serta pemeriksaan-pemeriksaan lainnya untuk memastikan diagnosa.
Kenyataan ini sungguh berat untuk diterima, terbayang masa depan Aysha yang akan sering sesak nafas atau bahkan terlihat sianosis ketika beraktivitas, terbayang juga tumbuh kembangnya mungkin akan terganggu, apalagi saat ia terkena flu atau pilek, terbayang pasti akan berat nafasnya.
Siapa yang ingin anaknya terlahir tidak sempurna?... Tapi ini adalah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada walau pahit dan berat. Yang dapat kulakukan adalah menerima Aysha apa adanya, memasrahkannya kepada Yang Maha Kuasa, kapanpun Ia akan mengambil Aysha maka aku harus ikhlas dan siap…
Aysha, abi sayang Aysha…

For Aysha with love