27 December 2015

Contoh Kasus Keperawatan Gawat Darurat

Tn. M, 42 tahun mengalami tabrakan dengan mobil lainnya saat mengendarai mobilnya di jalan tol sekitar pukul 14.30 WIB.

Pada saat kejadin Tn. M pingsan, petugas menemukan adanya darah pada daerah perut, ternyata ada luka robek pada perut sepanjang 8x1x1 cm  disertai adanya jejas seluas 10x6 cm dan 7x5 cm pada dada sebelah kiri.  Petugas juga melihat ada hematom pada daerah frontal seluas 5x5 cm.

Beberapa saat kemudian Tn. M sadar. Ketika akan dikeluarkan dari mobil Tn. M menjerit kesakitan, ternyata ditemukan tungkai bawah kiri bagian atas patah, tampak membengkok dan bengkak, ditemukan luka robek  4x1x1 cm yang terus mengeluarkan darah.


Setelah berhasil dikeluarkan dari mobil, Tn. M segera dibawa ke puskesmas terdekat yang mempunyai fasilitas gawat darurat dan tiba pukul 15.00 WIB.

Di puskesmas Tn. M diperiksa, BP 120/80 mmHg, HR 88 x/menit dan RR 20 x/menit. Perawat puskesmas mengolesi semua luka dengan betadin, kemudian memasang spalk pada kaki kiri. Kemudian perawat menyarankan Tn. M dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap karena menduga Tn. M mengalami trauma abdomen.

 Tn. M segera dibawa ke IGD RS X tanpa terpasang oksigen karena kehabisan dan hanya terpasang infus NaCl 0,9% pada lengan kiri (menggunakan infus set). Pada saat di IGD pukul 17.00 WIB, Tn. M kembali pingsan. BP 100/60 cm, HR 96x/menit, tekanan nadi lemah, RR 28x/menit.

 Tn. M hanya mengeluarkan suara menggumam ketika dipanggil tanpa membuka mata dan menarik tangannya ketika dicubit.  Beberapa saat kemudian Tn. M sadar dan mengeluh nafasnya berat dan agak sesak, serta nyeri pada perut dan kaki kiri.

Tn. M ditangani seorang perawat B  yang dibantu oleh 2 orang ko ass (dokter muda) dan 2 orang mahasiswa akper. Perawat B baru 1 minggu bekerja di IGD dan belum pernah mendapat pelatihan BTCLS. Sebelumnya Perawat B bekerja di Ruang Perawatan Penyakit Dalam.

Perawat senior lainnya yang berjumlah 4 orang sedang menangani pasien lain. Saat itu Ruang IGD tampak penuh, seluruh bed terisi pasien. IGD mempunyai kapasitas 6 bed untuk penyakit dalam dan 6 bed untuk kasus bedah, serta IGD kebidanan dan Neonatus. Perawat B melihat adanya luka robek setelah membuka spalk, luka tampak kotor dan tulang terlihat serta ada sebagian jaringan lunak yang hilang sehingga luka tidak bisa ditutup. Setelah mengatur tetesan infus menjadi 30 tetes/menit, Perawat B langsung meminta ko ass dan mahasiswa akper untuk melakukan hecting pada luka robek di tungkai dan memasang spalk.



20 menit kemudian BP turun menjadi 80 mmHg/palpasi dan HR 110 x/menit dengan tekanan nadi yang lemah. Perawat B melaporkan  kondisi Tn. M kepada dokter jaga. Dokter jaga segera meminta memasang alat bed side monitor dan memasang infuse 1 jalur lagi menjadi 2 jalur.

10 menit kemudian Tn. M tidak dapat dibangunkan, BP 62/39  mmHg, HR 120 x/menit dan nadi radialis tidak teraba, pernafasan gasping, saturasi oksigen 80%. 15 menit kemudian Tn. M apneu dan pada monitor  EKG tampak gambaran flat. Perawat melakukan resusitasi jantung paru selama 10 menit, akhirnya Tn. M tidak tertolong dan dinyatakan meninggal.

Kronologis kejadian dan pertolongan terhadap Tn. M telah didokumentasikan dalam berkas rekam medic secara lengkap dari mulai datang sampai meninggal.

30 menit kemudian keluarga Tn. M datang dan sangat sedih melihat Tn. M sudah meninggal. Keluarga merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan petugas di IGD karena merasa pertolongan kurang maksimal sehingga Tn. M sampai meninggal. Keluarga bertambah marah ketika Perawat B mengatakan dengan ketus bahwa ia sudah melakukan pertolongan secara maksimal. Keluarga menyatakan akan menuntut pihak rumah sakit.
Read More

16 December 2012

Askep Tn. M. dengan Diabetes Melitus

Tn. M.,  usia 39 tahun, bekerja sebagai direktur sebuah home industry, mempunyai latar belakang pendidikan sarjana. Tn. M. mengeluh lemas dan tidak nafsu makan sehingga terjadi penurunan berat badan secara drastis. Tn. M. mengatakan mudah lelah bila beraktivitas, padahal ia harus bekerja dari pagi sampai malam karena harus bertemu relasinya. Tn. M. mempunyai seorang istri dan 2 orang anak. Ayah Tn. M. telah meninggal dunia karena menderita penyakit jantung dan diabetes melitus.

Tn. M., jarang berobat ke dokter dan hampir tidak pernah memeriksakan kadar gula darahnya. Pada saat dikaji berat badan saat ini 72 kg, sebelum sakit 85 kg dengan tinggi badan 170 cm. Kadar gula darah sewaktu (GDS) Tn. M. 375 mg/dl. BP 160/90 mmHg, HR 84 x/menit, RR 22 x/menit, T 38oC.

Pada jempol kaki kiri ditemukan ulkus kemerahan yang sudah hampir 1 bulan tidak sembuh-sembuh. Luka tersebut tidak begitu dirasakan sakitnya oleh Tn. M. Pada beberapa bagian kaki juga ditemukan beberapa bekas luka yang sudah menghitam.



Read More

12 December 2012

Askep Tn. S. Dengan Sifilis


Tuan S. berumur 37 tahun mengatakan nyeri pada daerah genitalia dari semenjak 2 bulan terakhir. Rasa nyeri  bertambah parah setelah  beraktivitas dan pada saat malam hari. Tuan S juga mengeluhkan gejala-gejala flu, seperti demam dan pegal-pegal, serta kemerahan pada kaki dan tangan. 
 
Tuan S. bekerja sebagai wiraswastawan dan sering bepergian ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, berpisah dengan anak dan istrinya. Tn. S kadang-kadang memenuhi kebutuhan seksnya dengan pekerja seks komersial dan tidak suka menggunakan kondom karena tidak nyaman. Tn. D juga masih tetap melakukan hubungan seksual dengan istrinya apabila pulang.

Tn. S merasa cemas kalau dirinya mungkin  mengidap penyakit sifilis dan sebelumnya juga pernah menderita infeksi pada genitalia.  Tn. S mengakui tidak teratur minum obat karena lupa.  Tn. S juga khawatir menularkan penyakitnya kepada istrinya, serta merasa sangat bersalah.

Pemeriksaan tanda vital : TD = 120/90 mmHg, N = 88x/menit, RR = 22x/menit, suhu = 38o C. Pada pemeriksaan genitalia, pada daerah genitalia keadaannya tidak bersih terdapat luka kemerahan dan terdapat bintik bintik di daerah inguinal dan ditemukan adanya ulkus kemerahan pada  penis.    







Read More

02 December 2012

Mengakali Zoom Camera di Samsung Galaxy Ace 2

Waktu menggunakan Samsung Galaxy GT551 zoom kamera dapat dilakukan dengan menekan tombol volume, tetapi di Ace 2 cara itu tidak bisa dilakukan. Setelah searching ternyata ada aplikasi Zoom Camera yang free dan ukuran filenya kecil, hanya 338 kb. Setelah diinstal menjadi 660 kb, jadi tidak terlalu membebani memori hp, terlebih bila diinstal di SD Card.

Buka Google Play Store, lewat link berikut : Zoom Camera, klik accept & download, kemudian otomatis akan masuk pada proses instalasi.

Ada ikon zoom kamera, tinggal klik saja dan kita bisa zoom kamera dengan menyentuh tombol + dan -. Tampilan aplikasinya dapat dilihat pada screenshot di artikel ini.

Selamat berZoom ria...

Read More

28 November 2012

Metode Prototyping Dalam Pengembangan Sistem Informasi (Lengkap)

Pengertian dari prototyping : proses pengembangan sistem seringkali menggunakan pendekatan prototipe (prototyping). Metode ini sangat baik digunakan untuk menyelesesaikan masalah kesalahpahaman antara user dan analis yang timbul akibat user tidak mampu mendefinisikan secara jelas kebutuhannya (Mulyanto, 2009).

Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis.

Prototyping disebut juga desain aplikasi cepat (rapid application design/RAD) karena menyederhanakan dan mempercepat desain sistem (O'Brien, 2005).
Sebagian user kesulitan mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kesulitan ini yang perlu diselesaikan oleh analis dengan memahami kebutuhan user dan menerjemahkannya ke dalam bentuk model (prototipe). Model ini selanjutnya diperbaiki secara terus menerus sampai sesuai dengan kebutuhan user.

1. Kelebihan dan Kekurangan

 

Keunggulan prototyping adalah :
 
1)     Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.
2)     Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
3)     Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem.
4)     Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem.
5)     Penerapan menjadi lebih  mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya


Sedangkan kelemahan prototyping adalah :
 
1)     Pelanggan tidak melihat bahwa perangkat lunak belum mencerminkan kualitas perangkat lunak secara keseluruhan dan belum memikirkan peneliharaan dalam jangka waktu yang lama.
2)     Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek sehingga menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman sederhana.
3)     Hubungan pelanggan dengan komputer mungkin tidak menggambarkan teknik perancangan yang baik.



2.     Bentuk Prototipe

 
Berdasarkan karakteristiknya prototipe sebuah sistem dapat berupa low fidelity dan high fidelity. Fidelity mengacu kepada tingkat kerincian sebuah sistem (Walker et al, 2003).

Low fidelity prototype tidak terlalu rinci menggambarkan sistem. Karakteristik dari low fidelity prototype adalah mempunyai fungsi atau interaksi yang terbatas, lebih menggambarkan kosep perancangan dan layout dibandingkan dengan model interaksi, tidak memperlihatkan secara rinci operasional sistem,

mendemostrasikan secara umum feel and look dari antarmuka pengguna dan hanya menggambarkan konsep pendekatan secara umum (Walker et al, 2003).
High fidelity protoype lebih rinci menggambarkan sistem.

Prototipe ini mempunyai interaksi penuh dengan pengguna dimana pengguna dapat memasukkan data dan berinteraksi dengan dengan sistem, mewakili fungsi-fungsi inti sehingga dapat mensimulasikan sebagian besar fungsi dari sistem akhir dan mempunyai penampilan yang sangat mirip dengan produk sebenarnya (Walker et al, 2003).

 Fitur yang akan diimplementasikan pada prototipe sistem dapat dibatasi dengan teknik vertikal atau horizontal. Vertical prototype mengandung fungsi yang detail tetapi hanya untuk beberapa fitur terpilih, tidak pada keseluruhan fitur sistem. Horizontal prototype mencakup seluruh fitur antarmuka pengguna namun tanpa fungsi pokok hanya berupa simulasi dan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya (Walker et al, 2003).


4.     Proses Pembuatan Prototipe
 
Proses pembuatan prototipe merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang yang menggabungkan langkah-langkah siklus pengembangan tradisional. Prototipe dievaluasi beberapa kali sebelum pemakai akhir menyatakan protipe tersebut diterima. Gambar di bawah ini mengilustrasikan proses pembuatan prototipe :


Langkah-Langkah Prototyping

 

a.  Analisis Kebutuhan Sistem
 
Pembangunan sistem informasi memerlukan penyelidikan dan analisis mengenai alasan timbulnya ide atau gagasan untuk membangun dan mengembangkan sistem informasi. Analisis dilakukan untuk melihat berbagai komponen yang dipakai sistem yang sedang berjalan meliputi hardware, software, jaringan dan sumber daya manusia.

Analisis juga mendokumentasikan aktivitas sistem informasi meliputi input, pemrosesan, output, penyimpanan dan pengendalian (O'Brien, 2005).
Selanjutnya melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk merumuskan informasi yang dibutuhkan pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat dan kelayakan proyek yang diusulkan (Mulyanto, 2009).

Analisis kebutuhan sistem sebagai bagian dari studi awal bertujuan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan spesifik sistem. Kebutuhan spesifik sistem adalah spesifikasi mengenai hal-hal yang akan dilakukan sistem ketika diimplementasikan (Mulyanto, 2009).

Analisis kebutuhan sistem harus mendefinisikan kebutuhan sistem yang spesifik antara lain :

1)     Masukan yang diperlukan sistem (input)
2)     Keluaran yang dihasilkan (output)
3)     Operasi-operasi yang dilakukan (proses)
4)     Sumber data yang ditangani
5)     Pengendalian (kontrol)

Spesifikasi Kebutuhan Sistem
 
Tahap analisis kebutuhan sistem memerlukan evaluasi untuk mengetahui kemampuan sistem dengan mendefinisikan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh sistem tersebut kemudian menentukan kriteria yang harus dipenuhi sistem.

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah pencapaian tujuan, kecepatan, biaya, kualitas informasi yang dihasilkan, efisiensi dan produktivitas, ketelitian dan validitas dan kehandalan atau reliabilitas (Mulyanto, 2009).


b.  Desain Sistem
 
Analisis sistem (system analysis) mendeskripsikan apa yang harus dilakukan sistem untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai.

Desain sistem  (system design) menentukan bagaimana sistem akan memenuhi tujuan tersebut. Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang menghasilkan spesifikasi fungsional.

Desain sistem dapat dipandang sebagai desain interface, data dan proses dengan tujuan menghasilkan spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metode interface pemakai, struktur database serta pemrosesan dan prosedur pengendalian (Ioanna et al., 2007).

Desain sistem akan menghasilkan paket software prototipe, produk yang baik sebaiknya mencakup tujuh bagian :

1)     Fitur menu yang cepat dan mudah.
2)     Tampilan input dan output.
3)     Laporan yang mudah dicetak.
4)     Data dictionary yang menyimpan  informasi pada setiap field termasuk panjang field, pengeditan dalam setiap laporan dan format field yang digunakan.
5)     Database dengan format dan kunci record yang optimal.
6)     Menampilkan query online secara tepat ke data yang tersimpan pada database.
7)     Struktur yang sederhana dengan bahasa pemrograman yang mengizinkan pemakai melakukan pemrosesan khusus, waktu kejadian, prosedur otomatis dan lain-lain.


C.  Pengujian Sistem
 
Paket software prototipe diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O'Brien, 2005). Pengujian sistem bertujuan menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada sistem dan melakukan revisi sistem.

Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan (Mulyanto, 2009).


Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari :
 
1)     Pengujian unit untuk menguji komponen individual secara independen tanpa komponen sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi yang benar.
2)     Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan.
3)     Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa modul yang telah diintegrasikan.
4)     Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang diakibatkan dari interaksi antara subsistem dengan interfacenya serta memvalidasi persyaratan fungsional dan non fungsional.
5)     Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh pemakai dan bukan uji data simulasi.
6)     Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan dari awal sampai akhir pembuatan program.

Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan metode pengujian perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi pengujian tautan, pengujian browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan dan pengujian malar  (Simarmata, 2009).

Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan mengukur kepuasan user terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan meliputi tampilan sistem, kesesuaian dengan kebutuhan user, kecepatan dan ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang diinginkan user. Ada beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya adalah Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task Technology Fit (TTF) Analysis dan  Human Organizational Technology (HOT) Fit Model.

Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda dan tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan adalah End User Computing (EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan user terhadap aspek teknologi meliputi aspek isi, keakuratan, format, waktu dan kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew, 2000).

D.  Implementasi
Setelah prototipe diterima maka pada tahap ini merupakan implementasi sistem yang siap dioperasikan dan selanjutnya terjadi proses pembelajaran terhadap sistem baru dan membandingkannya dengan sistem lama, evaluasi secara teknis dan operasional serta  interaksi pengguna, sistem dan teknologi informasi.

5.      Alat Perancangan Sistem

 
Perancangan sistem membutuhkan peralatan berupa alat alat perancangan proses dan  alat perancangan data. Alat perancangan proses terdiri dari diagram aliran data dan diagram arus sistem. Sedangkan alat perancangan data terdiri dari diagram relasi entitas (entity relationship) dan kamus data (data dictionary).

A.      Diagram Aliran Data 
Diagram aliran data (data flow diagram/DFD) adalah sebuah alat dokumentasi grafik yang menggunakan simbol-simbol untuk menjelaskan sebuah proses. Diagram ini menunjukkan aliran proses seluruh sistem kepada pemakai dan dapat diatur detailnya sesuai dengan kemampuan pemahaman pemakai.

DFD terdiri dari tiga elemen yaitu lingkungan, pemrosesan, aliran data dan penyimpanan data. Salah satu keuntungan menggunakan DFD adalah memudahkan pemakai yang kurang menguasai bidang komputer untuk mengerti sistem yang sedang akan dikerjakan (Ladjamudin, 2005).

B.     Diagram Arus Sistem
Diagram arus sistem (Sistem Flow chart) adalah peralatan yang digunakan untuk menggambarkan proses sistem secara rinci untuk menggambarkan aliran sistem informasi dan diagram arus sistem untuk menggambarkan aliran program (Ladjamudin, 2005).

C.      Diagram Relasi Entitas
Diagram relasi entitas menunjukkan antar entitas satu dengan yang lain dan bentuk hubungannya sehingga data tergabung dalam satu kesatuan yang terintegrasi (Ladjamudin, 2005).

D.     Kamus Data
Kamus data adalah penjelasan tertulis lengkap dari data yang diisikan ke dalam database (Ladjamudin, 2005).
Read More