Pengetahuan perawat tentang sebuah komunitas dapat dibangun melalui pengkajian komunitas dengan cara observasi, wawancara, penyebaran kuisioner dan diskusi dengan kelompok tertentu dari komunitas. Pengetahuan tersebut diperoleh dengan terlebih dahulu membuat profil komunitas.
Keterampilan perawat dalam melakukan pengkajian komunitas dapat ditingkatkan dengan menggunakan SIG sebagai adaptasi terhadap perkembangan teknologi di bidang kesehatan. Sebuah riset di Irlandia Utara oleh Departement of Health Social Services and Public Safety (DHSSPS) mengembangkan pelayanan keperawatan komunitas merekomendasikan peningkatan akses dan penggunaan teknologi informasi oleh perawat termasuk system informasi geografis.
SIG mempunyai kemampuan menampilkan profil populasi lebih lengkap dan mampu menganalisa pola dan kecenderungan populasi. SIG mempunyai kemampuan mengintegrasikan, memodelkan dan menganalisis data demografi, geografi, biostatistik, sebaran tenaga dan fasilitas kesehatan secara spasial. Data spasial ini sangat bermanfaat dalam membuat profil sebuah populasi dan diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap untuk menggambarkan status kesehatan masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai dasar untuk menentukan prioritas masalah dan perencanaan di bidang kesehatan. SIG juga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam mengumpulkan dan menganalisa beberapa tipe data serta mendorong pertukaran data komunitas, SIG lebih baik dibanding tabel dan diagram dalam menampilkan data.
Perawat dapat menggunakan SIG untuk menggambarkan pola morbiditas dan mortalitas, distribusi dan jangkauan pelayanan kesehatan, menjelaskan distribusi indikator-indikator kesehatan kepada stakeholder dan merencanakan serta mengevaluasi progam dan kebijakan kesehatan. Hal ini dapat dilihat pada penelitian dalam membangun database fasilitas kesehatan untuk kepentingan perencanaan di Kenya yang menyimpulkan bahwa informasi geografis yang dikumpulkan menggunakan SIG sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas perencanaan bidang kesehatan.25 Pernyataan ini juga didukung dengan penelitian di Inggris tentang penggunaan SIG dalam mengendalikan informasi spasial dari infrastruktur kesehatan dan surveilens serta penelitian di Bangladesh tentang pengembangan SIG untuk penelitian kesehatan di negara-negara berkembang.
Salah satu hambatan penggunaan SIG adalah harga software SIG tergolong mahal. Salah satu software SIG yaitu ArcGIS untuk single use harganya sekitar 1500 US dolar atau sekitar Rp. 12.500.000,- Software SIG ini juga berkembang dengan cepat, setiap beberapa bulan dilakukan update untuk memperbaiki untuk memperkaya fitur software SIG. Disamping itu agar dapat menggunakan SIG dengan baik maka perawat perlu mengikuti pelatihan terlebih dahulu.
Pemilihan software SIG yang bersifat open source menjadi sebuah pilihan untuk mengumpulkan dan menganalisa data kesehatan masyarakat dengan biaya yang murah dan efektif. Penelitian di Indonesia Timur menggunakan Cybertracker, software gratis untuk pengumpulan data infrastruktur kesehatan menggunakan PDA (personal digital assistat); Open Jump, software berbasis Java yang digunakan untuk memvisualisasikan data dan melakukan analisa sederhana; dan Access Mod, software gratis dari WHO untuk memetakan fasilitas pelayanan kesehatan telah membuktikan bahwa open source GIS merupakan alat yang murah, mudah digunakan dan sangat bermanfaat dalam memetakan fasilitas pelayanan kesehatan.